Minggu, 15 Mei 2011

TIRTA AMERTA 3

TIRTA AMERTA 3


Dharma Bhakti Teguh Para Garuda


Oleh Triwidodo Djokorahardjo di facebook.

Kata “manusia” atau “manushya” berasal dari dua suku kata, “manas” dan “ishya”. “Ishya” berarti Keberadaan. “Manas” berarti Pikiran. Apabila Keberadaan atau eksistensi bertemu dengan pikiran, maka lahirlah manusia. 
Apabila manusia melepaskan dirinya dari pikiran, maka ia adalah Keberadaan atau Eksistensi. Keberadaan + Pikiran = Manusia, sebaliknya Manusia – Pikiran = Keberadaan. Energi dan apa yang kita sebut “materi” sama-sama merupakan bagian dari Keberadaan. 
Elemen-elemen air, api, udara, tanah, dan lain sebagainya – semuanya merupakan bagian dari Keberadaan. Mengidentitaskan diri kita dengan energi berarti mengidentitaskan diri kita dengan salah satu unsur Keberadaan. *1 Kundalini Yoga 

 

Kelahiran Sang Garuda


Daksa memberikan putri-putrinya untuk dijadikan istri Resi Kasyapa. Pernikahannya dengan Diti menurunkan Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Perkawinannya dengan Aditi melahirkan Indra dan Vamana. Perkawinannya dengan Dewi Kadru melahirkan para ular dan para naga, sedangkan perkawinannya dengan Dewi Winata melahirkan Aruna dan Garuda. Dari satu kakek yang sama, para cucunya ada yang menjadi tokoh penegak dharma dan beberapa yang lain menjadi pemimpin golongan adharma.

Dewi Winata bersaing dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru melahirkan ribuan butir telur yang menjadi ular dan naga, di antaranya menjadi naga Varuna dan Vasuki. Dewi Winata hanya melahirkan dua butir telur, dan karena lama tidak menetas, yang satu butir dipecahnya sebelum waktunya menetas dan menjadi Burung Aruna yang cacat. Kesalahan tindakannya nantinya harus dibayar dengan menjadi budak beberapa masa. Tugas Dewi Winata adalah memelihara dan membesarkan putra kandung dengan suka cita, akan tetapi karena tindakannya, dia harus merawat ribuan putra ibu lain dengan terpaksa.

Pada suatu hari Dewi Kadru bertaruh dengan Dewi Winata, mengenai warna ekor kuda Uchaiswara yang keluar dari samudera ketika para asura dan para dewa bersatu mengaduk samudera untuk mencari tirta amerta. Tirta amerta adalah air kehidupan yang membuat makhluk hidup abadi tak dapat mati.

Para anak-anak ular dan naga memberi tahu ibunya bahwa sang ibu yang memegang taruhan warna ekor kuda tersebut hitam akan kalah, karena sejatinya ekor kuda tersebut berwarna putih. Dewi Kadru minta para anaknya bersatu menutupi ekor kuda agar menjadi nampak berwarna hitam. Naga Varuna, Basuki dan beberapa yang lain menolak dan dikutuk akan mati menjadi hewan persembahan. Para naga yang dikutuk kemudian bertapa mohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat bahwa ekor kuda berwarna hitam dan Dewi Winata menjadi budak Dewi Kadru untuk merawat anak-anak putra Dewi Kadru.

Telor Winata lainnya akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada ibunya yang telah menyebabkan dirinya lahir di dunia. Dalam diri Garuda sudah ada benih kasih. Dia kemudian mencari ibunya dan akhirnya mengetahui bahwa ibunya menjadi budak perawat para ular dan naga. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular dan naga sangat lincah di samudera. Akhirnya Garuda bernegosiasi dengan memberikan pengganti untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan. Para ular dan naga minta barter “tirta amerta”, air yang membuat mereka tidak mati. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan air tersebut. Segala halangan dan rintangan dilewatinya untuk mendapatkan tirta amerta

Benih kasih yang berpotensi menjadi bhakti dalam diri Garuda

Dewa Wisnu melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Seorang Guru telah melihat adanya benih kasih dalam diri muridnya. Dia paham bahwa benih tersebut berpotensi mekar menjadi lembaga dan muridnya dapat mencapai keadaan bhakti. Salah satu syarat untuk meningkatkan kesadaran adalah berani dan yakin, fearless and no doubt terhadap Kebenaran. Garuda dalam upaya menyelamatkan ibunya telah melepaskan keraguan dan ketakutan.

Wisnu melihat benih kasih itu dalam Garuda ketika mencari tirta amerta. Wisnu bermaksud memberikan tirta amerta untuk diminum Garuda, tetapi Garuda menolak. “Terima Kasih Gusti, tirta amerta ini untuk membebaskan ibu saya dari perbudakan. Saya percaya kebijakan-Mu, saya yakin dan tidak ragu, bila memang tetap mau memberi anugerah, hamba juga tak pantas menolak, berikanlah anugerah lainnya, Gusti”. 

Bhakti berarti pengabdian tanpa pamrih. Pengabdian yang sesungguhnya merupakan manifestasi Kasih. Tanpa Kasih, kita tidak dapat mengabdi. *2 Bhagavad Gita

Wisnu amat berkenan dengan sopan santun dan etika Garuda dan minta Garuda menjadi kendaraan Wisnu. Garuda tidak hanya mendapatkan kehidupan abadi, tetapi setiap saat selalu mendampingi Yang Maha Memelihara, sebuah keadaan penuh berkah bagi seorang bhakta. Selanjutnya, Garuda mohon pamit untuk menyelesaikan tugas keduniawiannya, membebaskan perbudakan ibunya. Kita-kita ini selalu menunda panggilan Ilahi. Guru adalah Duta Ilahi, yang mengingatkan kita adanya benih kasih di dalam diri.

Di tengah perjalanan Dewa Indera menghentikan Garuda dan berpesan kepadanya, agar memberikan tirta amerta kepada para naga setelah Dewi Winata dibebaskan terlebih dahulu, agar dia tidak terpedaya ulah para ular dan naga. 

Garuda minta Dewi Winata dibebaskan dan para naga diminta mandi dulu untuk membersihkan diri dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Para ular dan naga mematuhi permintaan Garuda, mereka membebaskan Dewi Winata, dan mandi mensucikan diri. Ketika mereka sedang mandi ,tirta amerta direbut para Dewa, sehingga para ulardan naga tak dapat hidup abadi, akan tetap mati walau dia dapat berganti kulit, meremajakan diri. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi. Yang menipu akan ditipu. 

 

Obsesi Rahwana dalam keduniawian

Berbeda dengan Garuda yang taat kepada Sang Gusti, Rahwana tunduk pada ego pribadi. Bagi Garuda, ego hanya semacam tingkat kesadaran yang harus dilampaui, jati dirinya bukan ego, ego hanya salah satu identitas dari tingkat kesadaran bukan jati dirinya. Bagi Rahwana ego adalah dirinya. Seseorang yang kaya, terkenal dan sangat berkuasa, selalu ingin melebarkan kekuasaannya dan ingin mempunyai istri yang sangat luar biasa untuk menyempurnakan kebesarannya.

Raksasa adalah makhluk sejenis manusia. Rasa dan pikiran mereka sudah berkembang. Hanya mereka seperti “bhuta”, seperti “makhluk yang tidak berbadan”, berarti seperti kayu gelondongan yang belum dipahat. Sebenarnya, kita semua ini masih raksasa. Kita-kita ini adalah manusia yang belum menjalani proses finishing dan polishing. Belum terjadi penghalusan dalam diri kita. Kita memang sudah dilahirkan sebagai manusia, tetapi tanpa adanya proses penghalusan itu, jiwa kita, rasa kita, nurani atau intuisi kita, tidak akan berkembang. Suara nurani masih merupakan potensi yang terpendam. *3 Wedhatama 

Nenek moyang kita mengetahui hal tersebut. Rahwana merasa kebahagiaan itu diperolehnya dari luar. Akan tetapi luar itu tak mempunyai batas. Keserakahan itu tak dapat dipuaskan sampai nyawa direnggut dari tubuhnya. Obsesi nya adalah mendapatkan pasangan wanita yang sangat cantik, titisan Dewi Widowati. Rahwana dikisahkan mempunyai kerajaan besar di seberang samudera, akan tetapi dia punya “raksasa connection” yang masih tinggal di hutan di wilayah peradaban manusia.

Pada awalnya Rahwana ingin mendapatkan Dewi Citrawati isteri Prabu Harjuna Sasrabahu. Dewi Citrawati dikenal sebagai titisan Dewi Widowati. Dalam hal ini Rahwana menghadapi dua ksatriya tangguh, pertama Patih Suwanda atau Raden Sumantri dari kerajaan Maespati dan Prabu Harjuna Sasrabahu yang konon merupakan titisan Wisnu. Dalam kisah yang berkembang di India, Harjuna Sasrabahu adalah Raja Kartaviryarjuna, yang merupakan perwujudan Dattatreya, percikan Wisnu.

Patih Suwanda akhirnya dapat dibunuhnya. Kemudian setiap bertarung dengan sang prabu selalu kalah. Maka Rahwana membuat tipu muslihat membuat kabar seakan-akan sang prabu meninggal. Dewi Citrawati sangat sedih dan bunuh diri. Sang prabu terlalu sedih atas kematian istrinya dan meninggalkan istana dan kala bertemu Parasurama, sang prabu dibunuh oleh Parasurama yang juga merupakan titisan Wisnu. 

Setelah bertemu Sri Rama, Parasurama mengundurkan diri, sehingga di atas bumi ada dua pemimpin. Kelompok adharma dipimpin Rahwana sudah lama eksistensinya, sedangkan kelompok dharma dipimpin Sri Rama masih baru. Rahwana dan para raksasa berada dalam kelompok “yang tidak sadar”, sedangkan Sri Rama adalah manusia sadar. 

“Manusia sadar” bagaikan bibit yogurt. Satu sendok teh sudah cukup untuk membuat semangkuk yogurt. Satu orang sudah cukup untuk memancing kesadaran sekelompok manusia. Itu sebabnya setiap agama menganjurkan doa bersama. Itu sebabnya ada tempat-tempat ibadah. Satu manusia sadar yang hadir bisa membantu sekian banyak orang di sekitarnya, kendati orang sadar itu sendiri tidak akan menganggapnya “bantuan”. Dia tidak merasa membantu siapa-siapa. *4 Narada Bhakti Sutra 

Belasan tahun kemudian, Rahwana mendengar bahwa Dewi Widowati menitis pada Dewi Kausalya puteri Raja Banasura dari Kerajaan Kausala. Dewi Kausalya terkenal sangat cantik, layaknya seorang bidadari.
Dewi Kausalya dikisahkan menderita sakit lumpuh dan sang ayahanda mengadakan sayembara barang siapa yang dapat menyembuhkannya akan dijadikan suami sang putri. Adalah seorang pendeta brahmacari, tidak menikah bernama Resi Rawatmaja adik dari Banasura, seorang ahli pengobatan dapat menyembuhkannya, maka dia akan dinikahkan dengan sang putri.

Pada hari pernikahannya Rahwana datang menyerbu dan membunuh Raja Banasura. Resi Rawatmaja bersama Dewi Kausalya dilarikan oleh Garuda Sempati ke gunung. Rahwana mengejar dan memanah sayap Sempati, dan Sempati jatuh. Sempati memberikan salah satu bulu pusakanya kepada Kausalya yang dapat membawanya terbang kepada Pendeta Dasarata, seorang pendeta sahabat saudara misannya Garuda Jatayu. Rahwana yang marah membunuh Resi Rawatmaja dan menggunduli bulu sempati dan menendangnya hingga jatuh luka parah di Gunung Warawendya. Sebelum meninggal, Resi Rawatmaja mengutuk Rahwana akan mati dibunuh Putra Kausalya.

Dasarata adalah pendeta yang berguru pada Resi Yogiswara dan bersahabat dengan Jatayu, putra Aruna kakaknya Garuda. Dasarata sebetulnya menolak melindungi Kausalya, karena pada zaman itu mereka yang menang perang berhak memegang tahta dan mengawini putrinya. Tetapi datang petunjuk Dewata, putri inilah yang akan menurunkan titisan Wisnu dan meneruskan tahta Kerajaan Kausala yang beribukota di Ayodya. Akhirnya Dasarata mau membantunya. 

Pendeta muda Dasarata menciptakan sekuntum bunga sebagai Kausalya tiruan dan diserahkan kepada Rahwana yang mengejar pelarian Kausalya. Rahwana berkenan dan memberikan kerajaan Kausala dengan ibukota Ayodya kepada Dasarata. Dan jadilah Dasarata menjadi raja di Kausala.

Konon Rahwana membawa Kausalya palsu ke Alengka dan begitu sampai di sana sang putri palsu meninggal dunia. Rahwana protes kepada para dewa dan minta Kausalya dihidupkan lagi. Para dewa mengatakan akan ada waktunya Dewi Widowati menitis kembali di dunia, sebagai pengganti Rahwana dianugerahi Dewi tari sebagai permaisurinya. Tatkala Rahwana diceritai Sarpakenaka, bahwa Dewi Widowati telah menitis ke dewi Sinta, Rahwana berjuang dengan segala cara untuk mendapatkan Dewi Sinta, isteri Sri Rama.

 

Sang Jatayu, Garuda putra Aruna

Jatayu adalah putera dari Aruna dan keponakan dari Garuda. Jatayu adalah sahabat Raja Dasarata ayah Sri Rama.

Tatkala melihat Dewi Sinta dilarikan Rahwana, Jatayu menghadangnya. Dewi Sinta adalah menantu Raja Dasarata sahabatnya. Dan Sri Rama adalah Wisnu yang mewujud untuk menegakkan dharma. Jatayu sudah tua dan kalah melawan Rahwana dan jatuh terluka parah. 
Jatayu tidak mengeluh dan berkata pelan, “Bagi manusia awam aku kalah bertanding dan mungkin dianggap akan menemui kematian secara sia-sia. Manusia awam tidak tahu bahwa hidup itu untuk menyelesaikan tugas, bermain sebaik-baiknya melakoni peran pemberian Gusti. Saya kalah bertarung, tetapi diri saya menang, dharma dalam diri saya menang melawan ketakutan terhadap bagian adharmik saya. Gusti, jangan ambil nyawaku, sebelum aku bertemu dengan Sri Rama, Gusti yang mewujud, aku akan menceritakan kejadian siapa penculik Dewi Sinta dan aku berbahagia meninggalkan dunia, aku menang terhadap ketakutan yang berada dalam diriku.” 

Ketika Sri Rama dan Laksmana menelusuri hutan Dandaka mencari jejak Dewi Sinta, mereka menemukan Jatayu yang luka parah. Setelah menyampaikan pesan terakhirnya, Jatayu lega dan saat menyebut Ram..Ram..Rama, dia menemui kematian. 

Lain Jatayu, lain kita manusia awam, setiap saat yang kita pikirkan hanya harta benda duniawi, itulah yang kita ingat menjelang ajal.

Apa yang terjadi bila aku mati? Rumahku yang mewah, kendaraanku, tabunganku, usahaku—semoga anak-anakku dapat merawat, memelihara, memperbanyak. Dalam keadaan sekarat pun pikiran seperti itu yang muncul. Harta, uang, fulus... sepanjang umur itu saja yang kita pikirkan. Saat mati pun pikiran yang sama yang muncul. *5 Bhaja Govindam 

Sri Rama dan Laksmana mengadakan ritual pengabuan sederhana sebagai penghormatan terakhir dan meningalkan tempat tersebut. Banyak ksatria yang mendambakan kematian Jatayu, di saat terakhir menyebut nama Gusti. Obsesi terakhir sebelum kematian menyebabkan jiwa seseorang tertarik gravitasi dan lahir kembali. Akan tetapi yang bila obsesi terakhirnya bertemu Gusti, maka selesailah keterikatannya dengan dunia.
 

Kepahlawanan Sempati

Sempati adalah salah satu anak Garuda. Rahwana mengejar dan memanah sang burung yang terbang melarikan Resi Rawatmaja dan Kausalya. Sempati jatuh dan bulu burung Sempati dirontokkan semua oleh Rahwana. Akan tetapi Sempati sempat memberikan sehelai bulu burung pusakanya untuk dipegang Kausalya yang dapat menerbangkan sang putri minta perlindungan kepada pendeta muda Dasarata sahabat Jatayu. Kausalya selamat, akan tetapi Resi Rawatmaja terbunuh dan Sempati yang terluka parah di tendang Rahwana sampai ke Gunung Warawendya. 

Sempati menghabiskan seluruh hidupnya di Gunung Warawendya dan menunggu datangnya putra Kausalya yang diramalkan sebagai titisan Wisnu yang akan mengalahkan Rahwana. 

Hanuman, Anggada, Jambawan dan beberapa kera mencari jejak Rahwana dan mereka sampai di Gunung Warawendya. Mereka baru saja diracun oleh Dewi Sayempraba, raksasa wanita bagian dari jaringan Rahwana-Connection. Dalam keadaan setengah sekarat mereka sampai ke pantai di depan samudera yang luas sekali. Mereka kehilangan jejak Rahwana. Dalam keadaan sekarat, datanglah burung sangat besar yang sedang kelaparan sehingga mereka merasa kematian sudah dekat. Mereka merasa sedang menjalankan tugas Sri Rama, hanya terbersit perasaan kecewa karena gagal dan kematian sudah menjemputnya.

Hanuman, Anggada dan Jambawan juga sudah pasrah, kalau memang mati keracunan, atau dimakan burung yang kelaparan sudah tidak dapat apa-apa..... Jambawan berkata, “Sudahlah sahabat-sahabatku, mari kita tiru tindakan ksatria Jatayu yang rela mati demi Sri Rama.......”

Begitu kau menerima kematian, kau membuka diri terhadap segala macam kemungkinan. Bicara tentang kematian saja dapat menutup diri seseorang. Manusia tidak berani bicara tentang kematian karena ia takut. Rasa takut menutup diri mereka. Begitu kau menerima kematian, dirimu terbuka lebar dan alam pun mulai mengalir, menyirami jiwamu. Aku berubah total. Esoknya yang Bangun bukan aku yang sama lagi. Benar. Terjadi transformasi kuantum dalam dirimu. *6 Reinkarnasi 

Demi mendengar Jatayu disebut-sebut, bergetarlah dada Sempati. Jatayu adalah saudara misan sepermainan, sudah seperti saudaranya sendiri. Sempati menanyakan perihal Jatayu dan menganggap Hanuman dan sahabat-sahabatnya sebagai sahabatnya. Jatayu yang mempunyai ilmu pengobatan dari Resi Rawatmaja menyembuhkan mereka dari racun yang masuk dalam tubuh mereka.

Sempati memberitahu bahwa Dewi Sinta dibawa Rahwana memakai puspakh, sejenis wahana terbang. Sempati menunjukkan arah Alengka. Sempati sebagai keturunan garuda yang sakti, bisa melihat dari jarak jauh. Silahkan meneruskan perjalanan. Mereka berterima kasih dan melanjutkan perjalanan.
Kepasrahan dalam menghadapi kematian telah mengubah Hanuman, Anggada dan Jambawan. Mereka sudah lahir kembali, mereka menjadi manusia yang lain.

Dalam perjalanan, Jambawan meyakinkankan bahwa Hanuman adalah kera yang sakti, sewaktu kecil bisa terbang menuju matahari. Sri Rama memilih Hanuman sebagai komandan pasti mempunyai alasan. Hanuman timbul keyakinannya, melompat dan tiba-tiba terbang ke angkasa, dan semua teman-temannya bertepuk sorak.

Keyakinan seseorang membebaskan dia dari belenggu ketidakmampuan. Gusti Yesus berkata kepada orang buta yang sembuh setelah memegang jubahnya, “Kamu sembuh bukan karena saya, “keyakinan”-mu lah yang telah membantu menyembuhkan matamu.”

Dalam diri Sempati ada benih kekesatriaan burung Garuda. Jatayu sudah meninggal dalam menunjukkan bhaktinya kepada Sri Rama. Bahkan Jatayu tidak mau mati dan menunggu kedatangan Sri Rama. Sebelum akhir hayatnya, Jatayu hanya berpikir untuk bertemu Sri Rama. “Aku pun sudah tua seperti Jatayu, sudah waktunya meninggalkan dunia. “ Dan dengan segenap pikirannya tertuju pada Sri Rama, samar-samar dia melihat Resi Rawatmaja dan Jatayu menjemputnya, mari Saudaraku bersama kita menghadap Gusti......”

Banyak diantara kita hanya “mengaku” tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi “rasa takut” yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita-bahkan “kekitaan” itu sendiri. Dan kalau anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena “ego”. Seolah-olah kalau anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa. *7 ABC Kahlil Gibran 

 

Proses Daur Ulang

Pada dasarnya manusia memiliki dua pandangan tentang kehidupan: Yang satu menganggap kehidupan sebagai garis yang datar. Yang lain menganggap kehidupan sebagai lingkaran: kita harus berakhir pada titik permulaan, untuk membuat lingkaran yang sempurna. Pihak pertama ini bermasalah, yang merasa harus mengejar waktu, karena ia mulai dari satu titik dan harus berakhir pada titik yang lain. Selain itu, karena ujung pangkalnya pun tidak terlihat, ia gelisah. Ia selalu terburu-buru; ia tidak pernah hidup tenang. 
Pihak kedua melihat kehidupan sebagai lingkaran: kematian bukanlah penghabisan, namun hanya proses daur ulang. Secara ilmiah pun kita mengetahui bahwa dalam dunia ini tidak ada sesuatu yang musnah. Bentuknya dan nama berubah, namun tak pernah musnah. Air bisa berbentuk es atau uap. Uap itu menyatu dengan alam, menjadi awan dan kembali lagi dalam bentuk air. Begitu pula jiwa manusia: lahir, mati dan lahir kembali dan mati lagi. Kehidupan tidak pernah musnah.
Proses daur ulang kehidupan ini berjalan terus, sampai pada suatu titik di mana jiwa mencapai kesempurnaan, mencapai kekosongan yang absolut dan menjadi bagian dari alam semesta. Dalam keadaan itu pun, jiwa sebenarnya tidak musnah. *2 Baghavad Gita 

Di Medan perang Kurukshetra, Arjuna bertanya kepada Krishna, Apabila aku mati sebelum memperoleh pencerahan, sebelum sadar sepenuhnya, lalu bagaimana ? Sepanjang hidup aku mengejar. Lantas belum sampai, keburu mati. Bukankah segala jerih payahku sia-sia? 
Tidak Arjuna, usaha serta jerih payahmu tidak akan pernah sia-sia. Setelah mati,kau akan lahir kembali dalam keluarga saleh. Kau akan berada dalam lingkungan yang menunjang evolusi spiritualmu. Kehidupan sekarang merupakan kesinambungan dari masa lalu. *8 Atisha
Terima Kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.

*1 Kundalini Yoga Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka 
Utama, 1999.
*2 Bhagavad Gita Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, PT Gramedia Pustaka Utama 2002.
*3 Wedhatama Wedhatama Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999.
*4 Narada Bhakti Sutra Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand 
Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.
*5 Bhaja Govindam Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.
*6 Reinkarnasi Reinkarnasi Melampaui Kelahiran Dan Kematian, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1998.
*7 ABC Kahlil Gibran Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.
*8 Atisha Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, Anand Krishna, PT Gramedia 
Pustaka Utama, 2003.

Informasi buku silahkan menghubungi
http://booksindonesia.com/id/

Situs artikel terkait
http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/
http://triwidodo.wordpress.com
http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://old.nabble.com/Dharma-Bhakti-Teguh-Para-Garuda-p26468153.html



Relief Garuda di Candi Kidal

Terletak di desa Rejokidal, kecamatan Tumpang, sekitar 20 km sebelah timur kota Malang.





Pada bagian kaki candi terpahatkan 3 buah relief indah yang menggambarkan cerita legenda Garudeya (Garuda). Cerita ini sangat popular dikalangan masyarakat Jawa saat itu sebagai cerita moral tentang pembebasan atau ruwatan Kesusastraan Jawa kuno berbentuk kakawin tersebut, mengisahkan tentang perjalanan Garuda dalam membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta.

Cerita ini juga ada pada candi Jawa Timur yang lain yakni di candi Sukuh (lereng utara G. Lawu). Cerita Garuda sangat dikenal masyarakat pada waktu berkembang pesat agama Hindu aliran Waisnawa (Wisnu) terutama pada periode kerajaan Kahuripan dan Kediri. Sampai-sampai Airlangga, raja Kahuripan, setelah meninggal diujudkan sebagai dewa Wisnu pada candi Belahan dan Jolotundo, dan patung Wisnu diatas Garuda paling indah sekarang masih tersiumpan di museum Trowulan dan diduga berasal dari candi Belahan.

Narasi cerita Garudeya pada candi Kidal dipahatkan dalam 3 relief dan masing-masing terletak pada bagian tengah sisi-sisi kaki candi kecuali pintu masuk. Pembacaannya dengan cara prasawiya (berjalan berlawanan arah jarum jam) dimulai dari sisi sebelah selatan atau sisi sebelah kanan tangga masuk candi. Relief pertama menggambarkan Garuda dibawah 3 ekor ular, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga Garuda menggendong seorang wanita. Di antara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh.

Dikisahkan bahwa Kadru dan Winata adalah 2 bersaudara istri resi Kasiapa. Kadru mempunyai anak angkat 3 ekor ular dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru yang pemalas merasa bosan dan lelah harus mengurusi 3 anak angkatnya yang nakal-nakal karena sering menghilang di antara semak-semak. Timbullah niat jahat Kadru untuk menyerahkan tugas ini kepada Winata. Diajaklah Winata bertaruh pada ekor kuda putih Uraiswara yang sering melewati rumah mereka dan yang kalah harus menurut segala perintah pemenang. Dengan tipu daya, akhirnya Kadru berhasil menjadi pemenang. Sejak saat itu Winata diperintahkan melayani segala keperluan Kadru serta mengasuh ketiga ular anaknya setiap hari. Winata selanjutnya meminta pertolongan Garuda untuk membantu tugas-tugas tersebut. (relief pertama).

Ketika Garuda tumbuh besar, dia bertanya kepada ibunya mengapa dia dan ibunya harus menjaga 3 saudara angkatnya sedangkan bibinya tidak. Setelah diceritakan tentang pertaruhan kuda Uraiswara, maka Garuda mengerti. Suatu hari ditanyakanlah kepada 3 ekor ular tersebut bagaimana caranya supaya ibunya dapat terbebas dari perbudakan ini. Dijawab oleh ular "bawakanlah aku air suci amerta yang disimpan di kahyangan serta dijaga para dewa, dan berasal dari lautan susu". Garuda menyanggupi dan segera mohon ijin ibunya untuk berangkat ke kahyangan. Tentu saja para dewa tidak menyetujui keinginan Garuda sehingga terjadilah perkelahian. Namun berkat kesaktian Garuda para dewa dapat dikalahkan. Melihat kekacauan ini Bathara Wisnu turun tangan dan Garuda akhirnya dapat dikalahkan. Setelah mendengar cerita Garuda tentang tujuannya mendapatkan amerta, maka Wisnu memperbolehkan Garuda meminjam amerta untuk membebaskan ibunya dan dengan syarat Garuda juga harus mau menjadi tungganggannya. Garuda menyetujuinya. Sejak saat itu pula Garuda menjadi tunggangan Bathara Wisnu seperti nampak pada patung-patung Wisnu yang umumnya duduk diatas Garuda. Garuda turun kembali ke bumi dengan amerta. (relief kedua).

Dengan bekal air suci amerta inilah akhirnya Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan atas Kadru. Hal ini digambarkan pada relief ketiga dimana Garuda dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan bebas dari perbudakan. (relief ketiga)

http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Kidal#Relief_Garuda



Patung-patung sang Garuda di Candi Sukuh

Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jateng

 




Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti.
Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian amerta tersebut di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sukuh#Patung-patung_sang_Garuda 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar