Senin, 16 Mei 2011

GARUDA 3

GARUDA 3





Simbol Universitas Airlangga adalah burung Garuda tunggangan Bathara Wisnu yang membawa guci berisikan Tirta Amerta yakni air kehidupan abadi. Simbol ini melambangkan Universitas Airlangga sebagai sumber ilmu yang senantiasa kekal.

Universitas Airlangga, adalah perguruan tinggi negeri yang terdapat di kota Surabaya, Jawa Timur. Berdiri pada tahun 1954, Unair merupakan salah satu jajaran PTN terkemuka di Indonesia. Saat ini terdapat lebih dari 21.949 mahasiswa terdaftar di Unair. Pada tahun 2009, terdapat 13 fakultas dan program pascasarjana di Unair.
Unair menempati tiga kampus yang tersebar di Surabaya. Kampus A ( FK, FKG ) di Jl. Prof. Dr. Moestopo, Kampus B ( FE, FH, FF, FISIP, FPSI, FIB, Pasca Sarjana ) di Jl. Dharmawangsa Dalam Surabaya. Sedangkan Kampus C ( FSAINTEK, FKM, FKH, F KEPERAWATAN, F PERIKANAN DAN KELAUTAN, Kantor Manajemen ) terletak di kawasan Mulyorejo, Surabaya Timur.
http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Airlangga


Airlangga (Bali, 990 - Belahan, 1049) atau sering pula ditulis Erlangga, adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah 1009-1042 dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Sebagai seorang raja, ia memerintahkan Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam peperangan. Di akhir masa pemerintahannya, kerajaannya dibelah dua menjadi Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Janggala bagi kedua putranya. Nama Airlangga sampai saat ini masih terkenal dalam berbagai cerita rakyat, dan sering diabadikan di berbagai tempat di Indonesia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Airlangga

Airlangga means "he who crossed the water" .

Patung Airlangga yang didewakan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda, ditemukan di desa Belahan, koleksi Museum Trowulan, Jawa Timur.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f3/Airlangga.jpg


Wisnu - Garuda (Bathara Wisnu menunggang Garuda)



Garuda

 
 Patung Bali Dewa Wishnu mengendarai Garuda

Garuda (Sanskerta: Garuḍa dan Bahasa Pāli Garula) adalah salah satu dewa dalam agama Hindu dan Buddha. Ia merupakan wahana Dewa Wisnu, salah satu Trimurti atau manifestasi bentuk Tuhan dalam agama Hindu. Garuda digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah. Paruh dan sayapnya mirip elang, tetapi tubuhnya seperti manusia. Ukurannya besar sehingga dapat menghalangi matahari.
Bangsa Jepang juga mengenal Garuda, yang mereka sebut Karura. Di Thailand disebut sebagai Krut atau Pha Krut.
Indonesia dan Thailand menggunakan Garuda sebagai lambang negaranya.

Garuda menurut Mitologi Hindu

Garuda adalah seekor burung mitologis, setengah manusia setengah burung, wahana Wisnu. Ia adalah raja burung-burung dan merupakan keturunan Kaśyapa dan Winatā, salah seorang putri Dakṣa. Ia musuh bebuyutan para ular, sebuah sifat yang diwarisinya dari ibunya, yang pernah bertengkar dengan sesama istri dan atasannya, yaitu Kadru, ibu para ular.
Sinar Garuda sangat terang sehingga para dewa mengiranya Agni (Dewa Api) dan memujanya. Garuda seringkali dilukiskan memiliki kepala, sayap, ekor dan moncong burung elang, dan tubuh, tangan dan kaki seorang manusia. Mukanya putih, sayapnya merah, dan tubuhnya berwarna keemasan.
Ia memiliki putera bernama Sempati (Sampāti) dan istrinya adalah Unnati atau Wināyakā. Menurut kitab Mahabharata, orang tuanya memberinya kebebasan untuk memangsa manusia, tetapi tidak boleh kaum brahmana. Suatu ketika, ia menelan seorang brahmana dan istrinya. Lalu tenggorokannya terbakar, kemudian ia muntahkan lagi.
Garuda dikatakan pernah mencuri amerta dari para dewa untuk membebaskan ibunya dari cengkeraman Kadru. Kemudian Indra mengetahuinya dan bertempur hebat dengannya. Amerta dapat direbut kembali, tetapi Indra luka parah dan kilatnya (bajra) menjadi rusak.

Nama-nama Garuda

Garuda memiliki banyak nama dan julukan. Di bawah ini disajikan nama-namanya berikut artinya:

 Nama-nama lain Garuda

  • Kaśyapi
  • Wainateya
  • Suparṇna
  • Garutmān
  • Dakṣāya
  • Śālmalin
  • Tārkṣya
  • Wināyaka

 Nama-nama julukan

  • Sitānana, ‘wajah putih’.
  • Rakta-pakṣa, ‘sayap merah’.
  • Śweta-rohita, ‘sang putih merah’.
  • Suwarṇakāya, ‘tubuh emas’.
  • Gaganeśwara, ‘raja langit’.
  • Khageśwara, ‘raja burung’.
  • Nāgāntaka, ‘pembunuh naga’.
  • Pannaganāśana, ‘pembunuh naga’.
  • Sarpārāti, ‘musuh ular-ular’.
  • Taraswin, ‘yang cepat’.
  • Rasāyana, ‘yang bergerak cepat sebagai perak’.
  • Kāmachārin, ‘yang pergi sesukanya’.
  • Kāmāyus, ‘yang hidup dengan senang’.
  • Chirād, ‘makan banyak’.
  • Wiṣṇuratha, ‘kereta Wisnu’.
  • Amṛtāharaṇa, ‘pencuri amerta’.
  • Sudhāhara, ‘pencuri’
  • Surendrajit, ‘penakluk Indra’.
  • Bajrajit, ‘penakluk kilat’.

Garuda sebagai lambang dan kebudayaan

 Lambang negara

Garuda juga dipakai sebagai lambang negara Indonesia dan Kerajaan Thai.

 Lambang kota

Garuda dipakai sebagai lambang ibu kota Mongolia, Ulan Bator.

 Lambang perusahaan

Garuda dipakai antara lain sebagai lambang perusahaan penerbangan Indonesia Garuda Indonesia

 Kebudayaan

Band beraliran death metal asal Florida Amerika yaitu Morbid Angel, menggunakan tokoh Garuda Bali dalam salah satu karya seni mereka.

http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda



Garuda


This finely executed sculpture depicts Garuda, the mythical bird and the vahana or sacred vehicle of Lord Vishnu.
In the present form he is seated on a lotus throne. He has two hands which are making the gesture of adoration (anjalimudra). He has the staring eyes, wings and nose of a hawk. There is a Vaishnavite mark on his fore-head between the eyebrows. His hair is partly upswept and partly loose hanging down on the back. He has webbed feet and is wearing a loincloth richly incised with decorative designs.
He is traditionally inimical to the nagas (serpents) who are but his step-brothers. In fact Garuda eats up serpents and that is why he is also known as Pannagabhojana (eater of serpent). It is said that besides being the mount of Vishnu, Garuda is also regarded as a divine being and independent entity.
One of the earliest surviving images of Garuda is carved on the inner side of the middle architrave of the eastern gateway of Sanchi (Madhya Pradesh). He has also been richly mentioned in early Indian literature. The Rigveda calls him Garutman and describes him as a bird with 'beautiful wings'. The Mahabharata mentions Garuda as Amritaharanata who had stolen the heavenly nectar or amrita. Indeed, Garuda is widely represented in art, thought and literature.

This description by Dr. Shailendra Kumar Verma, Ph.D. His doctorate thesis being on the "Emergence and Evolution of the Buddha Image (from its inception to 8th century A.D)."


http://www.exoticindiaart.com/details/brass/garuda_zz42.jpg 










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar