Minggu, 15 Mei 2011

GARUDA WISNU KENCANA 1

 1GARUDA WISNU KENCANA 1


Garuda Wisnu Kencana


 







Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (bahasa Inggris: Garuda Wisnu Kencana Cultural Park), disingkat GWK, adalah sebuah taman wisata di bagian selatan pulau Bali. Taman wisata ini terletak di tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung, kira-kira 40 kilometer di sebelah selatan Denpasar, ibu kota provinsi Bali. Di areal taman budaya ini, direncanakan akan didirikan sebuah landmark atau maskot Bali, yakni patung berukuran raksasa Dewa Wisnu yang sedang menunggangi tunggangannya, Garuda, setinggi 12 meter.[1]
Area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berada di ketinggian 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di atas permukaan laut.[1]
Di kawasan itu terdapat juga Patung Garuda yang tepat di belakang Plaza Wisnu adalah Garuda Plaza di mana patung setinggi 18 meter Garuda ditempatkan sementara. Pada saat ini, Garuda Plaza menjadi titik fokus dari sebuah lorong besar pilar berukir batu kapur yang mencakup lebih dari 4000 meter persegi luas ruang terbuka yaitu Lotus Pond. Pilar-pilar batu kapur kolosal dan monumental patung Lotus Pond Garuda membuat ruang yang sangat eksotis. Dengan kapasitas ruangan yang mampu menampung hingga 7000 orang, Lotus Pond telah mendapatkan reputasi yang baik sebagai tempat sempurna untuk mengadakan acara besar dan internasional.
Terdapat juga patung tangan Wisnu yang merupakan bagian dari patung Dewa Wisnu. Ini merupakan salah satu langkah lebih dekat untuk menyelesaikan patung Garuda Wisnu Kencana lengkap. Karya ini ditempatkan sementara di daerah Tirta Agung.

Tempat Rekreasi di GWK

GWK mempunyai beberapa tempat rekreasi di antaranya:
  • Wisnu Plaza
Wisnu Plaza adalah tanah tertinggi di daerah GWK dimana tempat kita sementara merupakan bagian paling penting dari patung Garuda Wisnu Kencana patung Wisnu.
Pada waktu tertentu hari, akan ada beberapa kinerja tradisional Bali dengan megah patung Wisnu sebagai latar belakang. Karena lokasinya yang tinggi, Anda dapat melihat panorama sekitarnya. Patung Wisnu, sebagai titik pusat dari Wisnu Plaza, dikelilingi oleh air mancur dan air sumur di dekatnya suci yang katanya tidak pernah kering bahkan pada musim kemarau.
Parahyangan Somaka Giri ditempatkan di sebelah patung Wisnu. Ini tempat air berada, yang secara historis telah dipercaya oleh rakyat di daerah tersebut sebagai berkat dengan kekuatan magis yang kuat untuk menyembuhkan penyakitnya dan meminta para dewa hujan selama musim kemarau. Karena lokasinya di tanah tinggi (di atas bukit), fenomena alam ini dianggap orang suci dan lokal diyakini itu menjadi air suci.
  • Street Theater
Street Theater adalah titik awal dan akhir kunjungan ke Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Di sini kita dapat menemukan banyak toko dan restoran di satu tempat dan dimana semua perayaan terjadi.
Anda bisa mendapatkan souvenir Bali dan merchandise GWK khususnya di GWK Souvenir Shop dan Bali Art Market. Kita bahkan dapat menemukan spa Bali dan produk aromaterapi di toko ini. Sementara di sini, mengapa tidak mencoba pijat refleksi kaki Bali setelah berjalan-jalan. Kita bisa mencicipi makanan yang baik dengan harga terbaik hanya di pengadilan makanan kita, Makanan Teater, dan restoran terbaru kami, The Beranda dengan paket all you can eat.
Pada beberapa kali sehari, kita dapat menikmati belanja dan makan sambil ditemani kinerja Bali khususnya seperti barong, rindik dan parade.
  • Lotus Pond
Lotus Pond adalah area outdoor terbesar di Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan Taman Budaya, kemungkinan besar, di Bali. Dengan demikian, Lotus Pond adalah tempat yang tepat dan hanya untuk mengadakan acara outdoor skala besar.
Selama bertahun-tahun, GWK telah dipercaya untuk skala besar diadakan, baik nasional maupun internasional, acara di Lotus Pond seperti konser musik, pertemuan internasional, partai besar. Lotus Pond adalah tempat yang unik dengan pilar batu kapur di sisi dan patung megah Garuda di latar belakang.
Lotus Pond berawal dari teratai. Teratai adalah simbol utama keindahan, kemakmuran, dan kesuburan. Wisnu juga selalu membawa bunga teratai di tangannya dan hampir semua dewa dari dewa Hindu yang duduk di teratai atau membawa bunga.
Beberapa fakta menarik adalah bahwa tanaman teratai tumbuh di air, memiliki akar dalam ilus atau lumpur, dan menyebarkan bunga di udara di atas. Dengan demikian, teratai melambangkan kehidupan manusia dan juga bahwa kosmos.
Akar teratai tenggelam dalam lumpur merupakan kehidupan material. Tangkai melewatkan melalui air melambangkan eksistensi di dunia astral. Bunga mengambang di atas air dan membuka ke langit adalah emblematical spiritual sedang.
  • Indraloka Garden
Taman ini diberi nama Indraloka setelah surga Dewa Indra karena pandang panorama yang indah. Indraloka Garden adalah salah satu tempat paling favorit di Garuda Wisnu Kencana untuk mengadakan pesta kecil menengah, pengumpulan dan upacara pernikahan. Kita bisa melihat pemandangan Bali dari atas Indraloka Garden
  • Amphitheatre
Amphitheatre adalah tempat di luar ruangan untuk pertunjukan khusus dengan akustik yang dirancang dengan baik. Setiap sore Anda bisa menonton tari Kecak yang terkenal dan gratis yaitu sekitar pukul 18.30 s/d 19.30 WITA. Bahkan Tari Kecak ini dapat dikolaborasikan dengan tarian daerah lainnya.
  • Tirta Agung
Tirta Agung adalah ruang luar yang sempurna untuk acara menengah. Anda juga dapat mengunjungi patung Tangan Wisnu, bagian dari patung Garuda Wisnu Kencana yang terletak di dekatnya.

 Lihat pula

 Pranala Luar

 Referensi

  1. ^ a b Sarong, Frans (2003). "Mengukir Bukit Kapur Ungasan Menjadi Taman Budaya". Kompas Cyber Media. Diakses pada 27 September 2007.

http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Wisnu_Kencana      


Monumen Garuda Wisnu Kencana



Patung Garuda Wisnu Kencana berlokasi di Bukit Unggasan - Jimbaran, Bali. Patung ini merupakan karya pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta. Monumen ini dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi ikon bagi pariwisata Bali dan Indonesia.
Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemelihara (Sthiti), mengendarai burung Garuda. Tokoh Garuda dapat dilihat di kisah Garuda & Kerajaannya yang berkisah mengenai rasa bakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu.
Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia dan mengalahkan Patung Liberty.

 Lihat pula

 Pranala Luar



http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Garuda_Wisnu_Kencana       



Raja Airlangga


Saat Penobatan Airlangga, Empu Kanwa menggubah Arjunawiwaha.

Sebelum Airlangga naik tahta dan menikahi Sri Sanggramawijaya, mertuanya yakni Raja Dharmawangsa perintahkan para pujangga Kerajaan Kahuripan menyadur Kitab Mahabharata berbahasa Sanskerta ke bahasa Jawa Kuno dalam 18 parwa.
KISAH Dewa Wisnu menunggang Garuda diarcakan di Candi Belahan, Kabupaten Pasuruan; Jawa Timur. Dewa Wisnu menunggang Garuda itu sebagai penggambaran kebesaran Prabu Airlangga, putra asal Bali yang adil dan bijaksana dalam mengemban roda pemerintahan Kerajaan Kadiri atau Kahuripan, JawaTimur (1009-1042).

Prabu Airlangga sendiri merupakan putra dari penguasa Bali Dwipa: Raja Udayana Warmadewa dan Ratu Gunapriya Dharmapatni. Setelah mengembara ke Tanah Jawi sejak usia 16 tahun, Airlangga kemudian diambil menantu oleh Raja Kadiri, Dharmawangsa, saat dinikahkan dengan putrinya, Sri Sanggramawijaya Dharmaprasadottunggadewi. Kemudian,
Airlangga dinobatkan sebagai raja. Sebagai Raja Kahuripan, Airlangga bukan saja memajukan bidang politik, sosial ekonomi teknologi, dan pertanian denan proyek monumentalnya berupa Bendungan Waringin Sapta (Prasasti Kamalagyan). Namun, Raja Airlangga juga mencerdaskan rakyatnya, terutama di bidang. sastra dan budaya.

Memajukan sektor sastra dan budaya ini, tidaklah aneh, karena rnertuanya yakni Darmawangsa. dulunya juga dikenal sebagai raja yang memperhatikan kehidupan sastra dan budaya. Atas perintah Dharmawangsa, para pujangga menyadur Kitab Mahabharata berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno dalam 18 parwa. Gubahan dalam bentuk seloka dan palawakya itu keadaanya disesuaikan dengan alam Indonesia, di antaranya Serat Adiparwa.

Di zaman Raja Airlangga, hiduplah seorang pujangga kerajaan ternama, Empu Kanwa. Pujangga besar ini berhasil menggubah Kitab Arjunawiwaha dalam bentuk kakawin. Cerita yang dalam pewayangan dikenal dengan lakon Begawan Witaraga itu termuat di Serat Mahabharata dari India, episode Niwatakawacayuddhaparwa. Di Jawa, oleh Empu Kanwa, naskah itu digubah dalam bahasa Jawa Kuna berupa Serat Arjunawiwaha.

Isi singkatnya seperti berikut. Sebagai golongan raksasa, Prabu Niwatakawaca, raja di Manimantaka, sudah mendapatkan istri seorang bidadari, Dewi Prabasini. Perkawinan ini sebenarnya menyalahi aturan. Tapi, Niwatakawaca alias Prabu Nirbita yang serakah masih menginginkan istri bidadari lagi.

Dengan mengutus Sudirgapati, Niwatakawaca melamar Dewi Supraba di Kahyangan. Karena ditolak, Suralaya akan dijarah, sehingga Batara Indra perlu mencari jago di marcapada. Saat itu, Raden Arjuna, penengab Panca Pandawa, sedang bertapa di sebuah gunung atau Wukir Indrakila, dipanggil Begawan Ciptaning, memohon Dewa agar Yudhistira, sulung dari Panca Pandawa, bisa menjadi Raja Amerta kembali.

Di gua Witaraga, Arjuna bersemadi. Witaraga sendiri artinya suatu tempat untuk menahan hawa nafsu. Maka, Batara Indra mengutus tujuh bidadari untuk menggoda tapa Arjuna. Tujuh bidadari itu ada- lab Dewi Supraba, Tilotama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Lenglengmulat. Tetapi, bukannya Arjuna yang tergiur godaan asmara, melainkan justru para bidadari itu yang terbius kegantengan Arjuna.

Baru setelah Batara Indra turun tangan sendiri di tengah hujan dengan menyamar sebagai Resi Padya, hati Arjuna menjadi luluh. Setelah menyanggupi permintaan resi untuk menjadi jago para dewa, Arjuna meneruskan tapanya. Saat itulah, Patih Mamangmurka, utusan Niwatakawaca, datang untuk menggagalkan semadi Arjuna. Begitu bangun dari tapanya, Arjuna membunuh penggodanya. Akibat semua itu, Arjuna memperoleh hadiah senjata Pasupati dan Batara Siwa. Hadiah lainnya, berupa langkap (perentang panah) dan makutha (mahkota).
Ketika hendak pulang ke Amerta, utusan dewa memberi hadiah lagi kotang antrakusuma, trumpah pinatik manik nawa retna, dan nawala (surat) dan Batara Indra, agar Arjuna pergi ke Kahyangan karena diminta jasanya untuk membunuh Prabu Niwatakawaca. Dengan kotang dan terumpah itu, akhirnya Arjuna terbang menuju Kaindran untuk menjalankan tugas mengenyahkan keangkaramurkaan Niwatakawaca.

Dengan menggunakan Seorang mata-mata bidadari yalcni Dewi Supraba, Arjuna berhasil membunuh Niwatakawaca dengan mengarahkan panah Pasupati mengenai lidahnya. Dengan upacara kebesaran, sang pahlawan Arjuna akhirnya diarak ke Suralaya. Sebagai hadiahnya, Arjuna diberi dispensasi bermukim di surga selama lima tahun.

Sebuah kisah legendaris tentang ketegaran seorang anak manusia dalam mengendalikan diri, tarak brata, berolah samadi, mesu budi mbesut raga, yang tak tergoyahkan oleh berbagai cobaan dan godaan.

Arjunawiwaha bukan sekadar terjemahan dari gita bahasa Sanskerta, melainkan suatu gubahan baru yang menceritakan suatu peristiwa di dalam Mahabharata. Kakawin Arjunawiwaha rupanya mengibaratkan riwayat kehidupan Airlangga dengan permaisurinya, Sri Sangramnawijaya.

Kakawin Arjunawiwaha ini digubah sang pujangga Empu Kanwa pada penobatan dan pernikahan Airlangga dengan Sangramawijaya, dan baru selesai tahun 942 Saka atau 1020 M. Pada akhir Kakawin Arjunawiwaha, tersebut nama pengarang dan tahunnya. “Sampun keketaning katharjuna wiwaha pan garanike, saksat tambayi empu kanwa tumaha metu-metu kakawin, bharantapan tehera ngharep samara katya pangiringi haji, Cri Airlangghya namostu sang penikelan tana hanganumata.” (Sudah digubah tetang cerita perkawinan Arjuna namanya, sebagai permulaan beliau Empu Kanwa mencoba mengeluarkan! menggubah kakawin, bingung/beliau oleh karena terus menghadapi kerja perkawinan mengiring Raja, Sri Airlangga, mudah-mudahan kesamoaian sang diupacarai tak sedikit menganugerahi).
Isi Arjunawiwaha mengisahkan perjalanan spiritual Begawan Witaraga atau Mintaraga. Oleh sarjana Belanda, Prof Dr Krom, Arjunawiwaha karya Empu Kanwa ini dinilai bahasanya cukup baik, demikian pula rangkaian bait kidungnya. Tahun 1850, serat ini dicetak dalam aksara Jawa oleh Dr Friedderich. Tahun 1926, dicetak lagi dalam aksara Latin dengan salman bahasa BN, bahkan sebagian lagi diterjemahkan dalam bahasa Belanda oleh Prof Dr Poerbatjaraka.

Simbol Almamater

Atas jasanya memajukan bidang sastra dan buthya inilah, Raja Airlangga diareakan sebagai Dewa Wisnu yang menunggang Garuda. Wisnu dan Garuda sama-sama dipercayai sabagai tokoh yang kharismatik. Dewa Wisnu adalah juru selamat pelbagai persoalan dunia. Sedangkan Garuda dipandang sebagai makhluk kharismatik, karena Selain jadi kendaraan Dewa Wisnu, dalam mitologi Hindu, Garuda juga dianggap sebagai lambang pembebasan. Lambang pembebasan ini digambarkan dalam adegan Garudeya pada Adiparwa, yang membebaskan Dewi Kadru, ibunya, dan belenggu perbudakan.

Selain Wisnu-Garuda didapatkan dalam manuskrip kuno, secara visual, kisah Wisnu menunggang Garuda (Garudeya) juga dijumpai dalaru bentuk relief di Candi Dieng dan Candi Prambanan, di Jawa Tengab. Relief Garuda juga dipahatkan lengkap terdapat di Candi Sukuh, lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jateng, pada obelisk di bidang utara.
Di Jawa Timur pun, relief Garudeya bisa dijumpai di Candi Penataran (Blitar) dan Candi Kedaton. Dalam bentuk patung, dijumpai di Candi KidaiTumpang Malang). Sedang visual Garudeya secara utuh dan berdiri sendiri sebagai arca Wisnu-Garuda, didapatkan di Candi (Petirtan) Belahan, Gunung Penanggungan, Kab Pasuruan, Jatim. Arca ini melambangkan kejayaan Prabu Airlangga berdiri di atas punggung Garuda.

Duplikat area Wisnu-Garuda juga dipasang di tiga tempat di Surabaya. Pertama, di perempatan Jln Dharmawangsa Kertajaya Surabaya Kedua, di halaman Kampus Universitas Airlangga (Unair). Ketiga, dipasang di Fakultas Kedokteran Unair. Duplikat arca Wisnu Garuda dalam ukuran besar bisa didapatkan di Kota Denpasar, Bali. Semua arca atau patung itu menggambarkan Batara Wisnu menunggang di atas gigir Garuda, sementara tangan, Garuda membawa Guci (Kendi) Kamandalu berisi tirta amerta atau air kehidupan.
Sebagai raja di Kahuripan, Airlangga eukup berjaya dengan karya-karya pemerintahannya di bidang politik, ekonomi, teknologi dan kebudayaan. Tak aneh jika Universitas Airlangga sebagai perguruan tinggi negeri di Surabaya, menggunakan Wisnu Garuda sebagai simbol almamaternya. Demikian juga dibangunnya area Wisnu-Garuda dalam ukuran besar di Bali.

Penggunaan simbol mempunyai maksud dan tujuannya untuk mengambil spirit atau rohnya. Orang berharap, dengan menggunakan simbol itu, sifat-sifat Dewa Wisnu yang diwarisi Raja Airlangga yang cerdik, pandai, adil, dan bijaksana dalam menjalankan pemerintahannya itu, akan menyemangati almamater dan para alumninya, menyemangati warga kotanya, dan menyemangati bangsa dan negara ini.

Dengan tirta amerta atau air kehidupan, kita berharap agar almamater dan anak-anak bangsa bisa memberi air kehidupan ke semua lembaga atau isntitusi di mana kita mengabdi. Sebagaimana sifat heroik Sang Garuda yang selalu berjuang membebaskan umat manusia dan belenggu kemiskinan, kebodohan, penjajahan, para anak bangsa ini pun diharap setia mengabdi baik terhadap ibu sendiri (Winata, almamater) maupun terhathp ibu pertiwi (bangsa dan negara). RM Yunani Prawiranegara, pengamat sejarah dan kebudayaan. 

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1298&Itemid=120        




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar