Selasa, 17 Mei 2011

GARUDAMUKHA

GARUDAMUKHA



GARUDAMUKHA

Sri Maharaja Balitung (898 – 910) memakai cap Garudamuka. Raja inilah yang meneruskan pembangunan candi Prambanan. Di bagian Selatan candi Prambanan dilukis burung Garuda yang menjadi kendaraan Dewa Wisnu yang berwarna Merah Putih. Warna dalam melukis unggas sakti itu ditentukan, warna merah adalah warna dada sampai ke leher, sedangkan warna putih adalah warna paha sampai ke perutnya. Ketentuan ini dikekalkan dalam magi mantra seperti yang ditemukan di pulau Lombok dalam Puri Cakranegara . Di sana ditemukan suatu keropak tertulis dalam bahasa Jawa Kuno berisi mantra untuk menghormati burung Garuda (Garudeyamantra) yang dilafalkan pada waktu mau makan untuk menangkal racun yang mungkin ada dalam makanan atau minuman. Bunyi mantra itu sebagai berikut:
 

Putih warna ning pupu nira, makahingan ing nabhi
Mirah warna ning dada nira, makahingan ing gulu 

Putih adalah warna pahanya, sampai ke perutnya
Merah adalah warna dadanya, sampai ke lehernya

 

Sejak raja Airlangga (1000) sampai Kertajaya raja Kediri yang paling akhir, Garuda Muka dipakai sebagai Cap Kepala Negara. Ini juga dipakai oleh raja Jayabaya.
http://tuturtawa-mistery.blogspot.com/2008/10/garudeya-merah-putih.html



Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu adalah raja Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah sekitar tahun 899–911. Wilayah kekuasaannya mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Bali.
http://id.wikipedia.org/wiki/Dyah_Balitung


Prasasti Wantil disebut juga prasasti Siwagreha yang dikeluarkan pada tanggal 12 November 856. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagreha, yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa.
Berdasarkan ciri-ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut, Candi Siwa identik dengan salah satu candi utama pada komplek Candi Prambanan. Dengan demikian, bangunan utama pada komplek tersebut dibangun oleh Rakai Pikatan, sedangkan candi-candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya.
Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku adalah raja keenam Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno) yang memerintah sekitar tahun 840-an – 856.
http://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Pikatan#Pendirian_Candi_Prambanan

 

Daftar raja-raja Medang

Apabila teori Slamet Muljana benar, maka daftar raja-raja Medang sejak masih berpusat di Bhumi Mataram sampai berakhir di Wwatan dapat disusun secara lengkap sebagai berikut:

  1. Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang
  2. Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendra
  3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
  4. Rakai Warak alias Samaragrawira
  5. Rakai Garung alias Samaratungga
  6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
  7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
  8. Rakai Watuhumalang
  9. Rakai Watukura Dyah Balitung
  10. Mpu Daksa
  11. Rakai Layang Dyah Tulodong
  12. Rakai Sumba Dyah Wawa
  13. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
  14. Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
  15. Makuthawangsawardhana
  16. Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir
Pada daftar di atas hanya Sanjaya yang memakai gelar Sang Ratu, sedangkan raja-raja sesudahnya semua memakai gelar Sri Maharaja.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Mataram_%28Hindu%29#Daftar_raja-raja_Medang



GARUDAMUKHA



Arca Wisnu menunggang Garuda di Museum Trowulan. Arca ini merupakan penggambaran Airlangga, Raja Kahuripan, yang dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu. Setelah membagi Kahuripan menjadi Kediri (Dhoho/Panjalu) dan Jenggala tahun 1045, Airlangga menjadi pertapa bergelar Resi Gentayu. Ketika ia meninggal pada 1049, patung itu dibuat untuk memujanya sebagai jelmaan Wisnu, dewa penyelamat dan penjaga dunia. Garuda yang ditungganginya juga merupakan simbol kerajaan Kediri (Garudamukha).

http://candi.pnri.go.id/jawa_timur/kidal/07010064.htm     


GARUDAMUKHA

Menurut lampiran pada Peraturan Pemerintah No.66 Tahun 1951, lukisan Garuda diambil dari khasanah peradaban Indonesia. Garuda tergambar pada beberapa candi sejak abad ke-16, sebagai Lambang Tenaga Pembangunan seperti dikenal pada peradaban Indonesia.
Burung Garuda dari mitologi nenek moyang Indonesia berdekatan dengan burung elang Rajawali. Burung ini dilukiskan di candi Dieng, Prambanan, dan Panataran. Di Dieng dilukiskan sebagai manusia berparuh burung dan bersayap. Di Prambanan dan candi-candi Jawa Timur bentuknya berparuh, berambut panjang, dan menyerupai raksasa.
Raja Erlangga menggunakan tokoh garuda sebagai materai kerajaannya. Lambang itu diberi nama Garudamukha. Sekarang materai Garudamukha disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan kode penyimpanan No : D-16. Bahwa raja-raja Indonesia sudah sejak lama memakai lambang ini diketahui juga di barat. Dalam sebuah buku tentang lambang kerajaan. Yang terbit sekitar tahun 1453 berjudul “Des Conrad Gruenenberg, Ritters und burgers in Conztanzwappenbuch, vollbrachtam nuenden Tag des abrellen, do man zaelt tusend vier hundert drue und achtzig jar” membuat lambang “Kaisar Jawa” memperlihatkan seekor burung phoenix di atas api unggun. Sedangkan “Kaisar Sumatera” memakai lambang rajawali digambar dari samping dengan kedua cakarnya mengarah ke depan.
Pasal 5 lampiran ini menyebutkan bahwa kata “Bhina” dan “ika” kalimat seluruhnya dapat diterjemahkan “Berbeda-beda tetapi satu jua”. Kedua kata itu sering menimbulkan salah tafsir. Orang mengira bahwa “ika” itu adalah satu. Padahal hanya kata petunjuk yang berarti “itu”. Kata lain masih hidup dalam bahasa daerah Jawa Timur. Bhinna ika (digabung menjadi Bhinneka), Tunggal Ika. Terjemahan harfiah : “Beda itu (tetapi) satu itu”.
Semboyan ini diambil dari kitab Sutasoma karangan Empu Tantular dari pertengahan abad ke-14. Kata-kata ini dipakai Tantular untuk menjelaskan faham sinkretis antara Hinduisme dan Buddhisme yang menjadi aliran pada zaman itu. Lengkapnya ialah : “Siwatattwa lawan buddhatattwa tunggal, bhineka tunggal ika, tanhana dharma mangrwa” (Siwa dan Buddha itu satu, dibedakan tetapi satu, tidak ada ajaran agama yang bersifat mendua).
Burung Garuda menjadi lambang Negara RI berdasarkan peraturan Pemerintah No.66 tgl 17 Oktober 1951. Tetapi telah berlaku sejak tanggal 17 Agustus 1950. berbentuk Burung Garuda yang di dadanya tergantung perisai dengan “lima simbol”, yang lazim disebut dengan Pancasila.
Hingga sekarang pencipta lambang Garuda Pancasila belum diketahui, meskipun pernah disebuta nama-nama tertentu, seperti Mr. Moch. Yamin dan Sultan Hamid II. Kedua tokoh itu pernah menjabat sebagai Ketua Panitia Lencana Negara di masa kabinet RIS (Republik Indonesia Serikat).
http://zonatampan.blogspot.com/2008/12/sejarah-garuda-pancasila.html


Peraturan Pemerintah Nr. 66 tahun 1951, tentang Lambang Negara


Pasal 1
Lambang Negara Republik Indonesia terbagi atas tiga bagian, yaitu:
1. Burung Garuda, yang menengok dengan kepalanya lurus kesebelah kanannya;
2. Perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda;
3. Semboyan ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda.

Pasal 2
Perbandingan-perbandingan ukuran adalah menurut gambar tersebut dalam pasal 6. Warna terutama yang dipakai adalah tiga, yaitu Merah, Putih dan Kuning emas, sedang dipakai pula warna hitam dan warna yang sebenarnya dalam alam. Warna emas dipakai untuk seluruh burung Garuda, dan Merah-Putih didapat pada ruangan perisai di tengah-tengah.

Pasal 3
Garuda yang digantungi perisai dengan memakai paruh, sayap, ekor dan cakar mewujudkan lambang tenaga pembangun. Sayap Garuda berbulu 17 dan ekornya berbulu 8. Warna, perbandingan-perbandingan ukuran dan bentuk Garuda adalah seperti dilukiskan dalam gambar tersebut dalam pasal 6.

Pasal 4
Ditengah-tengah perisai, yang berbentuk jantung itu, terdapat sebuah garis hitam tebal yang maksudnya melukiskan katulistiwa (aequator). Lima buah ruang pada perisai itu masing-masing mewujudkan dasar Panca Sila:
I. Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa terlukis dengan Nur Cahaya di ruangan tengah berbentuk bintang yang bersudut lima.
II. Dasar Kerakyatan dilukiskan Kepala Banteng sebagai lambang tenaga rakyat.
III. Dasar Kebangsaan dilukiskan dengan pohon beringin, tempat berlindung.
IV. Dasar Peri Kemanusiaan dilukiskan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi.
V. Dasar Keadilan Sosial dilukiskan dengan kapas dan padi, sebagai tanda tujuan kemakmuran.

Pasal 5
Di bawah lambang tertulis dengan huruf latin sebuah semboyan dalam bahasa Jawa-Kuno, yang berbunyi: BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Pasal 6
Bentuk, warna dan perbandingan ukuran Lambang Negara Republik Indonesia adalah seperti terlukis dalam lampiran pada Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 7
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1950. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Jakarta, 17 Oktober 1951
Presiden Soekarno - Perdana Menteri Sukiman Wirdjosandjojo


PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 66 TAHUN 1951 TENTANG LAMBANG NEGARA

Pasal 1
Mengambil gambaran hewan untuk Lambang-Negara bukanlah barang yang ganjil. Misalnya untuk lambang Republik India diambil lukisan singa, lembu, kuda dan gajah, seperti tergambar pada tiang Maharaja Priyadarsi Asyoka berasal dari Sarnath dekat Benares. Lukisan garuda diambil dari benda peradaban Indonesia, seperti hidup dalam mythologi, symbologi dan kesusastraan Indonesia dan seperti pula tergambar pada beberapa candi sejak abad ke 6 sampai ke-abad ke 16. Perisai adalah asli, sedangkan arti semboyan yang dituliskan dengan huruf latin berbahasa Jawa-kuno menunjukkan peradaban klassik.
Pasal 2
Warna-kemegahan emas bermaksud kebesaran bangsa atau keluhuran Negara. Warna-warna pembantu dilukiskan dengan hitam atau meniru seperti yang sebenarnya dalam alam.

Pasal 3
Burung garuda, yang digantungi perisai itu, ialah lambang tenaga pembangun (creatief vermogen) seperti dikenal pada peradaban Indonesia. Burung garuda dari mythologi menurut perasaan Indonesia berdekatan dengan burung elang rajawali. Burung itu dilukiskan dicandi Dieng, Prambanan dan Panataran. Ada kalanya dengan memakai lukis berupa manusia dengan berparuh burung dan bersayap (Dieng); dicandi Prambanan dan dicandi Jawa Timur rupanya seperti burung, dengan berparuh panjang berambut raksasa dan bercakar. Lihatlah lukisan garuda dicandi Mendut, Prambanan dan dicandi-candi Sukuh, Kedal di Jawa Timur. Umumnya maka garuda terkenal baik oleh archeologi, kesusasteraan dan mythologi Indonesia. Lencana garuda pernah dipakai oleh perabu Airlangga pada abad kesebelas, dengan bernama Garudamukha. Menurut patung Belahan beliau dilukiskan dengan mengendarai seekor garuda. Pergerakan Indonesia Muda (1928) pernah memakai panji-panji sayap garuda yang ditengah-tengahnya berdiri sebilah keris di atas tiga gurisan garis. Sayap garuda berbulu 17 (tanggal 17) dan ekornya berbulu 8 (bulan 8 = Agustus).
Pasal 4
Perisai atau tameng dikenal oleh kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai senjata dalam perjuangan mencapai tujuan dengan melindungi diri Perkakas perjuangan yang sedemikian dijadikan lambang; wujub dan artinya tetap tidak berubah-ubah, yaitu lambang perjuangan dan perlindungan. Dengan mengambil bentuk perisai itu, maka Republik Indonesia berhubungan langsung dengan peradaban Indonesia Asli. Dengan garis yang melukiskan katulistiwa (aequator) itu, maka ternyatalah bahwa Republik Indonesia satu-satunya Negara Asli yang merdeka-berdaulat dipermukaan bumi berhawa-panas; garis katulistiwa melewati Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian. Di daerah Kongo, di kepulauan Pasifik dan Amerika Selatan tidak-lah (belumlah) terbentuk negara penduduk Asli.  Jadi garis tengah itu menimbulkan perasaan, bahwa Republik Indonesia ialah satu-satunya Negara Asli yang merdekaberdaulat, terletak di katulistiwa dipermukaan bumi. Mata bulatan dalam rantai menunjukkan bahagian perempuan dan digambar berjumlah 9; mata pesagi yang digambar berjumlah 8 menunjukkan bahagian laki-laki. Rantai yang bermata 17 itu sambung menyambung tidak putus-putusnya, sesuai dengan manusia yang bersifat turuntemurun. Kedua tumbuhan kapas dan padi itu sesuai dengan hymne yang memuji-muji pakaian (sandang) dan makanan (pangan).
Pasal 5
Perkataan Bhinneka itu ialah gabungan dua perkataan: bhinna dan ika. Kalimat seluruhnya itu dapat disalin: berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Pepatah ini dalam sekali artinya, karena menggambarkan persatuan atau kesatuan Nusa dan Bangsa Indonesia, walaupun ke luar memperlihatkan perbedaan atau perlainan. Kalimat itu telah tua dan pernah dipakai oleh pujangga ternama Empu Tantular dalam arti: di antara pusparagam adalah kesatuan.
Lampiran ...(gambar)

http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/uploaded_files/pdf/government_regulation/normal/pp_66_1951_soekarno.pdf


LAMPIRAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 24 Tahun 2009 2009
TANGGAL : 9 Juli 2009


Warna:
Warna Merah : MHB (RGB) : merah 255, hijau 000, dan biru 000
Warna Putih : MHB (RGB) : merah 255, hijau 255, dan biru 255
Warna Kuning Emas : MHB (RGB) : merah 255, hijau 255, dan biru 000
Warna Hitam : MHB (RGB) : merah 000, hijau 000, dan biru 000

Perbandingan Ukuran:
Jarak A – B = 12
Jarak C – D = 13 ½
Jarak E – F = 16
Jarak G –H = 15 ½
Jarak I – J = 17

http://kwarcabjakartapusat.blogspot.com/2011/01/penjelasan-atas-undang-undang-republik.html
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv4/sites/default/files/UU_2009_24.pdf 



LAMPIRAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 24 Tahun 2009 2009
TANGGAL : 9 Juli 2009

LIRIK LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA
VERSI ASLI DENGAN TIGA STANZA


Stanza 1:
Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri Djadi Pandoe Iboekoe
Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe
Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra'jatkoe Sem'wanja
Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

Stanza 2:
Indonesia Tanah Jang Moelia Tanah Kita Jang Kaja
Di sanalah Akoe Berdiri Oentoek Slama-Lamanja
Indonesia Tanah Poesaka P'saka Kita Semoeanja
Marilah Kita Mendo'a Indonesia Bahagia
Soeboerlah Tanahnja Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra'jatnja Sem'wanja
Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

-Stanza 3-
Indonesia Tanah Jang Seotji Tanah Kita Jang Sakti
Di sanalah Akoe Berdiri 'Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji Indonesia Abadi
S'lamatlah Ra'jatnja S'lamatlah Poetranja
Poelaoenja Laoetnja Sem'wanja
Madjoelah Negrinja Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

http://kwarcabjakartapusat.blogspot.com/2011/01/penjelasan-atas-undang-undang-republik.html
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/lamanv4/sites/default/files/UU_2009_24.pdf 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar